Perawat Homecare

Artikel Gratis dari Perawathomecare

Penggunaan Kateter Urine Pada Pasien

By Perawathomecare Writer

Penggunaan kateter urine biasanya dikenakan bagi pasien yang tidak memiliki kemampuan untuk buang air kecil. Sehingga, diperlukan alat bantuan khusus kepada pasien dalam mengosongkan area kandung kemihnya.

Umumnya, pemakaiannya hanya bersifat sementara dan pada jangka waktu tertentu harus dilakukan pergantian. Tentunya hal tersebut dilakukan guna pasien tidak mengalami infeksi sebab alatnya berfungsi dengan baik.

Terdapat beberapa kondisi yang membuat tenaga medis memberikan pilihan terhadap pasien untuk penggunaan kateter urine. Walaupun alternatif lainnya berupa pemberian obat-obatan, tetapi kami akan membahas lebih jelas mengenai pemakaian kateter.

Ukuran Pemakaian Kateter Urine Sangat Bervariasi

Kateter urine yakni alat berbentuk selang kecil tipis terbuat dari karet atau plastik yang lentur. Nantinya, alat tersebut dimasukkan ke dalam saluran kencing pasien supaya proses pembuangannya dapat berjalan normal.

Alat itu akan masuk ke area kandung kemih melewati daerah uretra. Tujuan penggunaan kateter urine tentunya untuk mengosongkan kandung kemih sebab pasien tidak bisa buang air kecil sendiri.

Rata-rata untuk proses pemasangannya membutuhkan waktu selama tiga sampai delapan hari. Tetapi, terdapat juga yang pemakaiannya dilakukan hanya satu hingga dua minggu demi mencegah terjadinya infeksi.

Ukurannya pun sangat beragam, disesuaikan dengan kondisi juga usia dari pasien. Pada unit ukuran kateter dikatakan dengan French, mulai dari 12 FR terkecil hingga ukuran 48 FR terbesar.

Kisarannya mencapai 3-16 mm, namun kebocoran pada alatnya bisa terjadi. Keadaan tersebut dikarenakan mengalami kejang otot di kandung kemih yang berhubungan dengan proses pemasangannya secara tidak tepat, harus diperbaiki pemasangannya.

Ketahui Jenis-Jenisnya Berdasarkan Bahan dan Kegunaan

Apabila dibedakan berdasarkan bahannya, terdapat berbagai jenis kateter urine terhadap pasien. Berikut merupakan bahan-bahan dasar yang biasa dipakai oleh tenaga medis dalam proses pengobatannya.

1. Bahan lateks diperlukan dalam durasi waktu kurang dari 3 minggu.

2. Bahan logam pemakaiannya bersifat sementara, hanya untuk proses pengosongan kandung kemih saja pada pasien yang baru melahirkan.

3. Bahan silikon murni digunakan kurang lebih 2-3 bulan sebab bahannya lebih lentur. Dengan begitu, lebih cocok untuk saluran kencing atau area uretra.

4. Bahan plastik dikenakan untuk pasien dengan penyakit tidak kronis. Penggunaannya bersifat sementara karena alatnya lebih cepat rusak dan tidak memiliki kelenturan dibandingkan jenis lainnya.

Namun, bila dilihat secara seksama dari sisi penggunaan kateter urine berdasarkan jenis-jenis pemakaiannya. Maka, Anda bisa membaca informasi di bawah ini untuk mengetahui apa saja jenis-jenisnya.

1. Eksternal Catheter

Pemasangan untuk jenis ini hanya dikhususkan bagi pria yang tidak memiliki masalah di aliran urine. Tetapi belum mampu buang air kecil dengan normal sebab gangguan mental atau kondisi fisik tertentu.

Proses pemasangan berada di luar tubuh, bentuknya menyerupai kondom yang menutupi bagian kepala penis. Pergantiannya secara berkala setiap hari, jika dibuat tidak bisa untuk jangka panjang, risiko lebih kecil.

2. Indwelling Catheter

Indwelling disebut pula foley catheter karena biasa dipakai untuk pasien yang mengalami retensi atau inkontinensia urine. Penggunaan kateter urine ini kurang dari waktu 30 hari.

Biasa dipasang pada daerah kandung kemih melalui uretra atau lubang kecil di perut. Bagian ujung alatnya dilengkapi dengan balon kecil yang akan mengembang di dalam salurannya.

3. Catheter intermiten

Untuk jenis ini dipakai pada pasien yang sehabis menjalankan proses operasi. Ketika kandung kemih dan salurannya sudah bisa berjalan normal seperti biasa, maka pemakaiannya akan dihentikan.

Penggunaan Kateter Urine Pada Pasien Bila Alami Kondisi Ini

Kateter ialah sebuah alat berupa tabung kecil yang fleksibel dan kerap dipakaikan pada pasien untuk membantu buang air kecil. Salah satu keadaan yang membutuhkan kateter yaitu retensi urine.

Retensi urine merupakan ketidakmampuan seseorang dalam mengeluarkan seluruh urine. Contohnya saja disebabkan oleh pembesaran prostat serta hidronefrosis, berikut penjelasan selengkapnya mengenai kondisi yang membutuhkan penggunaan kateter urine.

1. Pembesaran prostat

Untuk pembesaran prostat hanya dialami pria karena kelenjar tersebut tidak terdapat pada perempuan. Pembesaran prostat membuat saluran kemih mengalami penyempitan yang menyebabkan otot kandung kemih menebal.

Sehingga, sulit untuk membuang urine, dimana pada akhirnya memerlukan penggunaan kateter urine. Biasanya, muncul gejala umum seperti sulit buang air kecil atau tidak tuntas, urine tersendat karena alirannya lemah.

2. Hidronefrosis

Sementara, hidronefrosis berupa pelebaran atau pembengkakan ginjal dikarenakan adanya penumpukan cairan urine. Gejala yang timbul biasanya nyeri di bagian punggung, nyeri ketika berkemih, menggigil, serta demam.

3. Inkontinensia urine

Inkontinensia adalah keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan untuk menahan buang air kecil. Pengidapnya ini cenderung mengompol dan dialami oleh lansia, terutama pada wanita daripada pria.

Banyak hal menjadi penyebabnya, seperti kondisi medis tertentu sampai gaya hidup. Biasa terjadi dalam waktu singkat atau jangka panjang, adapun penggunaan kateter urine juga kerap dipakai untuk beberapa prosedur medis.

• Persalinan dan caesar

Pada dasarnya, kateter bukanlah prosedur yang rutin digunakan dalam persalinan normal. Selama ibu masih bisa buang air kecil, maka proses pemasangan tak perlu dilakukan, beda halnya bila operasi sesar.

Untuk prosedur persalinan caesar, kemungkinan besar akan dipasang. Namun, pemakaiannya tidak berlangsung lama yakni hanya bersifat sementara saja sampai akhirnya akan dilepaskan dari area kandung kemih.

• Proses pengosongan kandung kemih

Ketidakmampuan keadaan seseorang membuat pasien harus mengosongkan kandung kemih dengan bantuan alat. Salah satu alat yang dipakai dalam prosesnya ialah kateter, namun tetap pada prosedur medis.

• Pemberian obat secara langsung

Ketika pemberian obat langsung ke bagian dalam kandung kemih, baik itu sebelum, sesaat, atau setelah proses operasi berjalan. Maka, tenaga medis akan membantau perkembangan pasien.

• Perawatan yang intensif

Perawatan intensif yang memerlukan adanya pemantauan keseimbangan cairan pada tubuh. Jadi, proses pengosongannya ini dibutuhkan penggunaan kateter urine guna membantu pasien untuk buang air kecil.

Beberapa Keluhan Lain yang Membutuhkan Kateter

Penggunaan kateter khususnya ditujukan kepada pasien yang mengalami retensi atau inkontinensia urine. Biasanya, keluhan seperti ini juga kerap disebabkan oleh beberapa hal yakni sebagai berikut:

1. Spina bifida

Penyebab spina bifida karena tabung saraf tidak mengalami perkembangan atau menutup dengan sempurna sewaktu masa kehamilan. Kelainan ini termasuk salah satu kecacatan dari tabung saraf.

2. Demensia

Demensia adalah menurunkan fungsi kognitif seseorang yang berpengaruh terhadap cara berpikir, memori, perilaku, serta penilaian. Penyakit pikun satu ini kerap membuat perubahan pada kepribadian pasien.

3. Stroke

Pada beberapa kasus, penyumbatan pembuluh darah membuat tenaga medis melakukan prosedur untuk memasukkan obat ke area tersumbat. Sehingga, dibutuhkan kateter agar bisa dimasukkan ke area pembuluh darah.

4. Obat yang berefek

Pasien yang menggunakan obat dengan efek samping di area otot kandung kemih juga membuatnya membutuhkan kateter. Contohnya saja seperti pasien mengonsumsi obat-obatan penenang dan morfin.

Itulah beberapa hal yang kerap membuat pasien harus menggunakan kateter. Meskipun, tidak mengalami kesulitan buang air kecil, namun pemakaian selang tersebut diperlukan bila ada pertimbangan medis tertentu.

Bagi Anda yang ingin memasangnya dengan prosedur medis secara tepat. Perawat HomeCare menyediakan layanan pemasangan untuk penggunaan kateter urine, tentunya dibantu perawat professional yang datang ke rumah hubungi nomor +62 895-03800-997.